Rabu, 19 Mei 2010

Perhitungan Kubikasi dan Tonase

Perhitungan Kubikasi dan Tonase

Berat Aktual vs Berat Volumetrik

Perhitungan berat mempunyai formula yang berbeda untuk setiap jenis servis pengiriman barang (cargo). Disini kita hanya membatasi untuk pengiriman barang via darat dan udara saja. Perhitungan berat barang via kapal laut (container) akan dibicarakan kemudian.

Apabila seseorang akan mengirim barang (cargo) dengan servis via darat, maka hal yang paling pokok untuk dicatat adalah jumlah barang (biasanya dihitung dengan pcs atau colly) dan berat barang.

Ada dua jenis penghitungan berat barang, yakni berat aktual dan berat volumetrik. Adapun penjelasan dari kedua sistim perhitungannya adalah sebagai berikut :

1. Berat Aktual (Berat Sebenarnya)

Berat aktual adalah berat yang didapat dari hasil perhitungan dengan menggunakan neraca ukur atau lazim disebut timbangan. Barang di timbang, maka langsung didapatkan berapa berat sesungguhnya barang tersebut. Satuan berat biasanya digunakan sistem Amerika yaitu KG (Kilogram).

Setelah barang di timbang biasanya tidak menunjukkan bilangan sempurna, misalkan 2 Kg, 15 Kg, atau 75 Kg. Akan tetapi hampir selalu didapat jumlah berlebih, misalnya 2,3 Kg, 5,7 Kg, atau 101,9 Kg. Apabila hal ini terjadi, lazimnya pihak ekspedisi membulatkan berat barang ke atas. Misalkan 2,8 kg dibulatkan menjadi 3 kg, dan seterusnya.

2. Berat Volumetrik (Berat volume)

Berat volumetrik adalah berat yang didapat dari hasil perhitungan dengan menggunakan ukuran volume barang. Perhitungan ini didasarkan pada kondisi dimana berat aktual barang kecil (ringan) akan tetapi memakan tempat (volume besar).

Formulasi yang dipakai untuk kiriman via darat adalah Panjang (cm) X Lebar (cm) X Tinggi (cm) : 4000. Formulasi ini sudah dipakai dan diterima secara luas dan di akui oleh ASPERINDO.

Sebagai contoh, barang dengan panjang 100 cm, lebar 100 cm dan tinggi 100 cm, maka memiliki berat volumetrik : 100 X 100 X 100 / 4000 = 250 Kg.

Sedangkan formula yang dipakai untuk kiriman via udara adalah Panjang (cm) X Lebar (cm) X Tinggi (cm) : 6.000. Formulasi ini sudah dipakai dan diterima secara luas dan di akui oleh ASPERINDO.

Sebagai contoh, barang dengan panjang 100 cm, lebar 100 cm dan tinggi 100 cm, maka memiliki berat volumetrik : 100 X 100 X 100 / 6.000 = 166.66 Kg atau 167 kg.

Dari kedua sistim perhitungan tersebut, manakah yang di pakai ? Kapan menggunakan berat aktual dan kapan menggunakan berat volumetrik ?

Kedua sistem perhitungan berat tersebut sama sama dipakai. Apabila barang kecil namun berat, maka di gunakan berat aktual (misalkan spare part, mesin dll). Sebaliknya apabila barang ringan namun memakan tempat, maka digunakan berat volumetrik (misalkan rak buku, almari, kursi dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar